BONUS NEW MEMBER..
100% HANYA DI METALBET.NET

Minggu, 03 Mei 2015

Pamer Tubuh Di Pom Bensin

Aku wanita paruh baya, usiaku 34 tahun tinggiku 164 cm beratku 55, cukup chubby menurutku terutama di bagian yang paling disuka lelaki. Tetekku 36c ukuranya. Ukuran yang cukup fantastis dilihat di Indonesia.
Aku sadar aku seksi dan cenderung ke arah hot. Kenapa hot ? Aku memiliki hobby yang cukup aneh utuk orang indonesia, hobby yang sebenernya banyak dipikirkan wanita Indonesia tapi mereka malu untuk mengungkapkannya. Hoby memamerkan tubuh, eksibisionis, dan segala macam julukannya. Berikut ini salah satu ceritaku……
Sore itu agak mendung dan nampaknya gerimis kecil sudah mulai turun. Aku masih berada di toko perlengkapan bayi dan wanita miliku. Rumahku emang gak jauh dari toko, sekitar 4 KM. tapi kalo ujan deras ya cukup membuatku basah kalo naik motor pulang. Mmmmm….. tapi ide nakalku untuk pamer keseksian malah muncul. Aku tutup toko dan masuk ke dalam mengganti kemeja tebal yang kupakai dengan kaos putih tipis dan berleher lebar serta celana jeansku kuganti dengan legging hitam yang berumur 1 tahun sehingga sudah agak tipis kainnya menampakkan pahaku yang putih mulus.
“Mmmmm…. Cukup seksilah” pikirku dalam hati.
Apalagi setelah kulihat di cermin kaosku hanya menggantung di atas pantat sehingga tercetak jelas bulatan pantat dan memiawku, gak ada garis celana dalam karna aku emang sengaja melepasnya.
“Ok siap berbagi kesenangan, mmmmm…. Siapa yang beruntung sore ini ya”, pikirku dalam hati.
Setelah siap dengan kostum eksibku aku menembus gerimis dengan “mio pink” kesayanganku. Hujan bertambah deras, membasahi seluruh bajuku karna sengaja aku g pake jas hujan.
“Show segera dimulai” pikirku dalam hati.
Mendekati lampu merah sengaja aku memperlambat laju “mio” ku.
“Yes pas merah”, sengaja aku tunggu lampu merah.
Pas aku berhenti di barisan paling depan. Sesaat kemudian berhenti di sebelahku 2 anak sma naik motor. Nampak mereka berbisik, dan aku sedikit mendengar.
“Gus liat tu susu cewek yang naik mio”, kata pengendara yang depan.
“Anjrit…. Montok banget… , ra nganggo BH maneh”. Kata si pembonceng dengan logat jogjanya.
“Masa sih..??, Wuhh iyo… pentile (putting : dalam bahasa jawa) ketok nembus, gede tenan susune cah….”, tambah temannya.
Sengaja aku tengok keduanya. “Ngomongke aku yo ?”, kataku.
“Anu gak ci, kita ngomongin hujan-hujan enaknya nyusu eh minum susu anget”, jawab anak sma yang duduk di belakang.
“Susu susu opo? Susune mbokmu? Nek mo liat susuku liat aja, rasah isin2”, kataku.
Ketika mereka masih bengong liatin tetekku, aku langsung tancap gas karna lampu udah ijo. Kulirik lewat spion ternyata motor mereka mati karna gugup.
“Yes… berhasil” dalam hati.
Gak jauh dari rumah aku belok ke pom bensin.
“Yes , ini show sebenernya”, hatiku bersorak.
Pom bensin sepi. Hanya ada 2 orang cowok jaga di pompa premium. Aku berhenti tepat di depannya. Sempat liat expresi wajah mereka yang kaget. Dasar cowok kalo liat cewek muka tertutup helm pasti liat ke arah tetek duluan. Apalagi kaos putih tipisku dah basah sempurna.
“Mas isi full tank ya! Sekalian numpang berteduh ya…”, kataku dengan nada menggoda.
“Iiiiya mbak eh ci…”, jawab petugas yang umurnya lebih muda sekitar 20 tahunan.
Sambil mengisi dia melirik tetekku yang besar dan terbungkus kaos tipis yang basah.
“Ujan-ujanan nie ci?? Kok gak pake jas ujan ??”, tanya penjaga yang udah agak tua.
Sambil merapikan uang di tangannya tapi matanya gak lepas dari tetekku.
“Iya nie pak, jadi basah gini”, kataku sambil mengusap-usap dadaku yang membuat tetekku makin tercetak jelas.
“Mampus lo liat nie tetek gue mantep kan…”, pikiran nakalku muncul.
“Berteduh disini dulu aja ci nunggu ujan reda”, kata yang muda dengan nada agak gemetar.
“Dasar berani juga dia ngomong gitu, akal mesum”, pikirku.
“Iya deh.., oh ya saya Nana tinggal di Palem Hijau situ panggil aja ci Nana atau cici saja”, kataku memperkenalkan diri.
“Abdullah….. “, kata penjaga tua sambil mengusap genit tanganku.
“Ahmad….”, si pemuda mengulurkan tangannya sambil gemetaran.
“Saya parkir mionya di sini aja ya”, kataku memarkir motor agak kedepan.
“Ya gak papa”, kata pak Abdul.
Matanya gak berhenti melihat tetekku dan seolah pengen meremasnya dan menjilat putingnya yang tegak karna aku mulai kedinginan. Aku duduk di dekat mesin besin.
“Kok sepi ya ??”, kataku.
“Maklum ujan“ kata pak Abdul.
“Ada apa sie pak kok liatin saya terus gitu?” kataku sambil menegakkan dudukku jadi tetekku makin tegas menantang.
“Anu ci, tapi jangan marah ya…, anu apa cici gak pake baju dalem atau BH ya? Kok pentilnya keliatan??”, kata pak Abdul lagi.
Nampaknya dia berani juga.
“He. Iya pak… maaf ya kalo jadi mengganggu bapak, abisnya saya cuma bawa BH sama CD 1 aja pas kerja, eh daripada basah mending saya copot. Kalo baju ganti sih saya bawa di bagasi”, mampus lo kena perangkap gue.
“Apa gak risih susunya cici diliat cowok di jalan, dan kita berdua disini?”, kata si Ahmad memberanikan diri.
“Yah kalian berdua kayak gak pernah liat tetek cewek aja? Paling bapak dah sering liat tetek istri bapak, masnya juga paling dah pernah liat punya ceweknya”, kataku memancing.
”Yah tapi gak semontok dan seputih itu, tetek eh susu eh apalah namanya, punya cici bagus montok seksi, ya gak pak Abdul?”, kata si Ahmad.
“Wah makasi pak…., tapi saya bukan cewek murahan lo hanya karna saya gak sengaja berdandan gini (padahal sengaja)”, tegasku.
“Iya saya tau kok ci, cici orang terhormat”, jawab pak Abdul.
“Eh ci saya punya jas hujan di motor belakang, cici bisa ganti baju kering di belakang trus pulang pake jas hujan saya”, kata si Ahmad menawarkan pertolongan.
“Bener nie mas Ahmad? Boleh deh wah makasih banget”, kataku.
Lalu aku berlari ke mioku dan mengambil kemeja, jeans, dan pakaian dalamku.
“Pak Abdul anter ci Nana aja, biar saya yang jaga”, kata Ahmad memberi kesempatan pada pak Abdulah.
“Iya ci mari saya antar, sebelumnya maaf kamar mandinya gak bisa dipake kalo mau ganti di belakang kantor aja, aman kok, motor Ahmad juga disana”, kata pak Abdul tanpa risih lagi sambil melihat tetekku.
Akupun mengikuti pak Abdul ke belakang kantor SPBU, belakang kantor merupakan lorong sempit antara gedung SPBU dan tembok pembatas area SPBU.
“Pak Abdul tolong temenin saya ganti, saya takut ada orang ngintip”, kataku menggoda.
“Bener nie ci?”, katanya gembira.
“Iya pak Abdul kan orang baik-baik saya percaya”, kataku.
Aku mulai membuka baju, dengan gerakan perlahan seolah striptis. Mata pak Abdul gak berkedip melihat tetekku yang besar dan montok menggantung bebas kini tanpa penghalang apapun. Aku berusaha tambah menggodanya dengan mengusap sisa-sisa air hujan di tetekku.
“Ci boleh saya….”, kata pak Abdul sambil tangannya maju hendak meremas tetekku. Plak…. Aku tampar pak Abdul.
“Mampus loe, emang loe kira bisa ngentot gratis “, dalam hati pikirku.
“Maaf pak Abdul, saya gak bisa melayani nafsu pak Abdul, tapi…. karna pak Abdul sudah baik dan menjaga sikap, pak Abdul boleh mengocok tongkol pak Abdul sambil liat saya seperti ini, kasian tongkolnya pak itu”, kataku sambil malu-malu menunjuk tongkolnya.
“Bener ci?”, katanya.
Tanpa menunggu konfirmasi dikeluarkanya tongkolnya yang coklat panjang. Mmmmmmmm…… sebenernya aku pengen ngemut juga sih, walau aku doyan ngentot tapi ya pilih-pilih jangan-jangan pak Abdul suka main sama perek kan bisa ketularan penyakit aku. Pak Abdul terus mengocok tongkolnya sambil mengerang, aduh… lama banget lagi. Akupun mendekatinya dan menarik salah satu tangannya ke tetekku.
“Aaaaaaaaa………, pelan pak”, teriakku, karna pak abdul meremasnya kuat sekali.
Sial bandot tua ini.
“Uhhhhhhhhh……. Ahhhhhhhhhh sssshhhhhhhhh…… ciiiiiii…….. jepit dunk di paha cici aja gak usah di memiaw, gak bisa keluar nie nanggung “, katanya.
Akupun nungging memposisikan diri doggy style dengan legging yang masih aku pake. Aku jepit tongkolnya di pahaku, dia bergerak maju mundur. Tangannya bergerak ke depan meremas tetekku.
“Oohhh………. Ci…. Nikmat ngentotin ci*a…. uhhhh……”, desahnya.
Dan crot…. crot… crot…. tongkolnya menyembur membasahi leggingku. Sial nie bandot, gak tau legging kesayanganku di kotorin lagi. Setelah beristirahat sesaat aku berkata.
“Panggilin Ahmad dunk pak, saya juga mau makasih sama dia”.
Saat pak Abdul sudah pergi aku turunin leggingku sampai buah pantat. Aku emang sudah horny berat karna eksibisku berhasil dan karna memiawku tergesek-gesek saat pak Abdul ngentotin pahaku.
“Ssssssssshhhhhhhhhh………. ohhhhhhhhh………… ssssssssshhhhhhhhhh………. ohhhhhhh……… sssssshhhhhhhh…… ohhhhhhh………… ssssssshhhhhhhh………. ohhhhhhhhh………… sssssssssshhhhhhhhhh………. ohhhhhhhhh…………”, desahku sambil tanganku mainin memiaw sementara tetek masih kebuka, meski udara dingin badanku hangat karna nafsu.
“Mmmmmmmmmpppppppp……….”, gak sadar Ahmad mengamatiku entah berapa lama.
“Eh Ahmad… makasi jas hujannya ya…, sini…sini, aku mau ucapin terima kasih…, kamu mau minta apa?”, kataku menggodanya.
“Anu kata pak Abdul gak boleh ngentotin cici ya….? Kalo gitu saya mau tongkol saya di jepit susu cici dunk, saya sering sama pacar saya, tapi punya dia gak gede kaya punya cici, gak putih lagi ”, katanya lugu sambil meraba tetekku tanpa malu-malu.
”Ok…. permintaanmu aku kabulkan….. “ aku maju mendekatinya dan menjepit tongkolnya di tetekku.
Aku bergerak naik turun jadi tongkolnya serasa dikocok. Gak ada 3 menit dia dah keluar…. Dasar anak muda. Diapun tersenyum puas. Aku mulai berkemas melepas semua legging yang tinggal menempel satu-satunya di tubuhku. Mengelap peju Ahmad di tetekku dengan leggingku. Ahmad bangun dari duduknya dan membantuku berpakaian, kekagumannya belum habis pada tubuhku, pantat, tetek, memiaw (yang belum waktunya dia rasakan) semua dia raba dan pegang. Sambil membantuku memakai CD dia mengusap-usap memiawku dan saat aku memakai BH ku dia meremas-remasnya dengan alasan biar pas posisinya, dasar anak muda yang aneh. Setelah berpakaian lengkap akupun pulang dengan jas hujan pinjaman.
Sampai di rumah cuma ada keponakanku Doni yang setia menungguku, Akhirnya aku ngentot dengan Doni seperti biasa saat suamiku pergi. Kami bergumul sangat hebat karna aku udah foreplay duluan dengan hobi eksibis kesukaanku.
Selesai.
Posted on 08.00 / 1 komentar / Read More

Nonok Retno Istriku

Sebagai sekretaris istriku sering mendapatkan tugas lembur. Dan aku terpaksa menunggu di kantornya hingga pekerjaannya selesai.
Sore itu saat aku memasuki kantornya Pak Darno petugas Satpam bilang bahwa Bu Retno, istriku, masih bersama Pak Direktur. Waahh.. Kena lembur lagi nih. Jadi terpaksa aku duduk di ruang tunggunya sambil ngobrol sama Pak Darno.
Tak lama ngobrol Pak Darno minta maaf padaku, dia harus pulang lebih dahulu karena istrinya minta diantar ke dokter. Dia mengambil segepok majalah dan koran, 'Silahkan baca-baca Mas, biar nggak sepi'. Pak Darno meninggalkan aku sendirian.
Sesudah hampir semua halaman majalah aku baca-baca, istriku belum juga nongol. Apakah pekerjaannya demikian penting sehingga mesti dilembur macam begini? Aku agak kesal karena bosan menunggu. Akhirnya aku iseng-iseng. Aku masuk ke ruangan kantor.
Lampu ruangan tidak lagi sepenuhnya menyala. Ngirit. Nampak sederetan meja kosong telah ditinggalkan para karyawan pulang. Aku tengok sana sini, kulihat ada ruangan kaca di pojok sana yang masih terang namun kacanya ditutup dengan 'blind curtain' gorden berlipat yang biasa dipakai di kantor. Mungkin disana istriku bekerja lembur. Pelan-pelan aku mendekat. Aku ingin melihat apa yang dikerjakan istriku. Aku bias mengintip dari celah 'blind curtain' itu.
Bagai kena palu godam 1000 kati saat aku menyaksikan apa yang bisa kusaksikan. Aku melihat Retno istriku dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya sedang berjongkok dengan lututnya diselangkangan Pak Wijaya bossnya yang bermata sipit itu. Rok dan blus berikut BH dan celana dalamnya nampak terserak di lantai. Jelas dia sedang sibuk mengulum kemaluan Pak Wijaya yang duduk telentang di sofa yang nampak begitu empuknya.
Tanpa melepas kemeja dan dasinya Pak Wijaya hanya merosotkan celana hingga merosot ke lantai, tangannya memegang kepala Retno menekan naik dan turun. Retno mengulum dan memompa kontol Pak Wijaya dengan mulutnya. Wajah Pak Wijaya dengan mata sipitnya nampak menyeringai merasakan nikmat tak terhingga dari bibir Retno. Samar-samar kudengar desahan nafsu Pak Wijaya dan suara-suara bibir istriku yang sedang penuh memompa kontol bossnya itu.
Rupanya aku telah ditipu istriku sendiri. Aku yang dengan setia menjemput dan menunggu setiap sore tidak menduga bahwa justru istriku ini berbuat selingkuh dengan direkturnya. Aku meledak ingin marah, namun kutahan. Mungkin tidak ada gunanya. Sambil terus berusaha menenangkan diriku aku menyaksikan apa yang akan berlanjut dari yang kulihat sekarang ini.
Pak Wijaya menarik lengan istriku. Dia rangkul tubuh Retno untuk duduk di pangkuannya sedikit naik ke perut. kontol Pak Wijaya yang telah mampu memberi semangat syahwat istriku tadi nampak putih bersih mencuat panjang dengan bonggolnya yang gede nongol di belakang pantat istriku. Dengan sangat keranjingan Pak Wijaya langsung melumati dada istriku. Menyusu bak bayi manja di puting susu Retno yang berwarna coklat kemerahan itu dan tampak sudah tegak mengacung dengan maksimal karena tekanan birahi yang dahsyat yang melanda tubuh Retno sambil tangannya merabai relung-relung tubuh sensual istriku. Aku melihat nikmat yang tak terhingga melanda istriku. Tubuhnya bergeliatan menahan gelinjangnya sambil tak putus-putusnya desah serta rintihannya mengalir dari mulutnya yang mungil itu.
Sesuatu yang muskil telah terjadi pada diriku. Hal yang semula sangat memukul aku kini justru membangkitkan hasratku. Aku dirangsang oleh gairah birahi saat menyaksikan bagaimana istriku begitu merasakan nikmat dilumati bossnya. Aku menyaksikan betapa istriku dengan penuh semangat syahwatnya telah mengenyoti kontol Pak Wijaya. Kini kemaluanku terasa menegang dan sesak di celanaku. Dan akhirnya aku mesti menyaksikan pergulatan asyik masyuk antara istriku dengan bossnya ini sambil meremasi kontolku sendiri.
'Ppaakk.. Retno nggak tahan ppaakk..' istriku menyambar bibir Pak Wijaya dan melumat-lumat habis-habisan.
Kemudian Pak Wijaya mengangkat sedikit tubuh istriku. Tangan kirinya meraih kontolnya dan diarahkannya ke nonok Retno yang tampak dirimbuni oleh bulu-bulu jembut keriting itu. Apa yang terjadi kemudian sangatlah mendebarkan jantungku. Aku melihat bagaimana kontol gede dan panjang milik Pak Wijaya itu menembusi nonok Retno istriku yang sangat aku tahu betapa sempit lubangnya.
Berkali-kali kulihat yang satu menekan yang lain menjemput. Sesudah kontol Pak Wijaya hampir selalu meleset untuk diluruskan kembali, akhirnya dengan pelan kusaksikan kemaluan istriku menelan batangan gede panjang itu. Uucchh.. Bagaimana bisa..? Istriku menyeringai. Nampaknya dia mendapatkan rasa pedih sekaligus nikmat yang tak bertara.
Akhirnya seluruh batangan itu melesak tertelan menembusi nonok Retno. Mereka lantas diam sesaat. Hanya bibir-bibir mereka yang kembali terus berpagut. Itu mereka lakukan untuk meningkatkan hasrat birahinya. Kemudian secara hati-hati Pak Wijaya memulai dengan menaik turunkan pantatnya. Kudengar rintih Retno..
'Aduuhh.. Aduuhh.. Adduuhh..' Mengulang-ulang kata aduh setiap kali kontol Pak Wijaya ditarik dan menusuk.
Sesudah beberapa kali berlangsung kulihat tangan istriku bergerak berpegangan bahu bossnya. Dia kini nampak akan mengambil alih gerakan. Dengan sekali lagi memagut bibir Pak Wijaya istriku mulai menggenjot dan mengenjot-enjot. Nonoknya nampak naik turun seakan menyedoti kontol gede bossnya itu. Bibir nonoknya setiap kali nampak tertarik keluar masuk karena sesaknya bibir nonoknya menerima gedenya batang kontol Pak Wijaya.
Aku tak mampu lagi bertahan. Aku turunkan celanaku dan kukeluarkan kontolku sendiri. Tanpa ragu lagi aku melototi kontol dan nonok istriku yang saling jemput itu. Aku mengocok-ocok kemaluanku sambil khayalanku terbang tinggi.
Genjotan istriku semakin cepat. Racau kedua insan yang asyik masyuk itu semakin riuh. Aku menyaksikan tubuh-tubuh mereka berkilat karena keringat birahi yang mengucur. Dalam kamar AC yang dingin itu nafsu birahi mereka membakar tubuhnya. Rambut istriku semakin awut-awutan. Rambut itu menggelombang setiap tubuhnya naik turun menggenjoti kontol bossnya.
Saat mereka mulai mendaki puncak, tak pelak lagi keduanya mempertingi polahnya. Pak Wijaya mempererat pelukan pinggul Retno dan bibir Retno melumat penuh gereget bibir Pak Wijaya. Keadaan menjadi semacam 'chaos'. Liar dan tak terkendali.
Cakar dan kuku istriku menghunjam pada kemeja Pak Wijaya sementara bibir dengan cepat mematuk bahu Retno. Mataku konsentrasi melotot ke arah kontol yang keluar masuk ke nonok itu. Dan saat kecepatan genjotan naik turun tak lagi terhitung samar-samar aku melihat cairan putih mencotot meleleh dan berbusa di batangan kontol Pak Wijaya. Itulah klimaks. Istriku masih menggenjot sesaat hingga yakin bahwa seluruh cadangan peju Pak Wijaya telah tumpah memenuhi lubang nonoknya. Dan kemudian hening. Istriku menyandarkan kepalanya di dada Pak Wijaya. Nafas panjang keduanya nampak dari dada-dada mereka yang setiap kali menggembung kemudian kempis.
Istriku merosot ke lantai dalam kelelahan yang sangat. Demikian pula Pak Wijaya. Bermenit-menit keadaan itu berlalu.
Akan halnya aku, ejakulasi pertama langsung kudapatkan saat menyaksikan genjotan istriku semakin cepat tadi.
Kudengar kursi di ruangan Pak Wijaya berderit. Aku harus cepat keluar ruangan ini. Kusaksikan istriku bersama bossnya menuju toilet yang ada di ruangannya. Aku membetulkan celanaku dan bergegas keluar.
Tanpa ada masalah dengan berboncengan sepeda motorku kami sampai di tempat kost jam 8 malam. Seperti biasa Retno menyiapkan nasi dan lauk pauknya untuk makan malam itu.
Aku masih melotot hingga jam 12 malam di depan TV sementara itu istriku nampak pulas tertidur. Aku memakluminya.
Posted on 07.55 / 0 komentar / Read More

Memek Istri Lurah

Sabtu itu sekitar jam 1, bu Novi (39) hendak meminta izin kepada suaminya pak Parno (43) untuk pergi ke Kantor Kelurahan tempat suaminya bekerja untuk menghadiri acara dengan ibu-ibu PKK kelurahan setempat. Dengan senang hati pak Parno mengizinkan istrinya itu, namun ia berpesan agar setelah selesai acaranya agar langsung pulang ke rumah. Kemudian bu Novi meraih tangan pak Parno dan menciumnya sebelum akhirnya meninggalkannya. Pak Parno merasa bangga melihat istrinya yang selalu aktif dalam setiap acara yang dilakukan oleh Keluarahan yang dipimpinnya itu. selain itu ia juga mampu memberikan pelayanan sebagai ibu rumah tangga, baik kepada dirinya maupun terhadap ke-empat anaknya, sehingga ia merasa percaya sepenuhnya kepada istrinya itu.
Sesampainya di Kantor Kelurahan bu Novi disambut oleh pak Dodi (42) salah satu pegawai staff di Kelurahan itu yang telah menunggunya dari tadi. diraihnya tangan bu Novi dan dibimbingnya menuju ruangan yang ada paling pojok. Ruangan itu adalah ruangan tempat dimana pak Dirman (53) tinggal, pak Dirman sendiri adalah salah satu pekerja/pesuruh di Kantor Kelurahan tersebut. Meski ruangan itu tidak ada apa-apanya namun memiliki kasur sekedar tempat untuk tidur dirinya, ia terpaksa tinggal di situ karena semenjak cerai dengan istrinya pak Dirman sampai saat ini tidak mampu mengontrak rumah. Kemudian pak Dodi mengeluarkan kunci dari saku celananya hendak membukakan pintu ruangan tersebut, kunci tersebut didapatkannya dari pak Dirman pada hari sebelumnya. Mereka berdua masuk dan tidak lupa menguncinya dari dalam. Sebelum mengajaknya ke kasur, pak Dodi sempat menanyakan kepada bu Novi saat dirinya masih dirumahnya. “say, tadi gimana di rumah? Suamimu curiga ga kalo kamu sebenarnya ga ada acara dengan ibu-ibu PKK?” tanyanya. “ngga, baginya aku adalah istri setia, jadi dia percaya aja kalo aku ada acara, akang tenang aja” jawabnya. “baguslah kalo gitu, kamu hebat saying” pujinya. Kemudian pa Dodi memangku tubuh bu Novi dan membawanya kemudian membaringkannya di kasur itu. Keduanya tertawa kecil penuh kemenangan, mereka tampak seperti remaja yang sedang memadu kasih, canda-tawa; manja; dan romantis berbaur menghiasi suasana saat itu. Satu demi satu pak Dodi melepaskan pakaiannya dan hanya menyisakan Bra dan CD nya yang berwarna putih serta melepaskan bajunya sendiri namun tidak dengan celana panjangnya. Sambil saling melumat bibirnya masing-masing, pak tangan pak Dodi memburu memiawnya bu Novi yang masih terbungkus oleh cd nya itu, di usap-usap serta di gesek-geseknya tangannya di sekitar vaginanya. Dirasakannya gumpalan daging yang tebal itu oleh pak Dodi. Tubuh bu Novi sedikit menggelinjang karena merasa nikmat gesekan tangan pada kemaluannya itu.
Meski sudah beranak empat namun tubuhnya masih tampak segar, kulitnya yang putih dan mulus membuat pak Dodi semakin terangsang. Kini pak Dodi benar-benar melepaskan celana panjangya itu serta cd nya begitu juga dengan bu Novi bra dan cd nya kini sudah dilucuti oleh laki-laki perkasa itu. “say, tongkolku nih, kamu ituin juga ya” suruhnya sambil memasang posisi berbaring. Bu novi tidak menjawabnya hanya tersenyum kecil karena sudah mengerti apa yang diinginkannya. Kemudian ia meraih tongkol itu dengan tangan dan mulai mengulumnya. “akh” erang pak dodi sambil matanya terpejam dengan wajah seakan menatap ke langit-langit kamar itu, merasakan nikmatnya kuluman bu novi. Kurang lebih dilakukannya selama 10 menit. Bu novi yang sudah terangsang itu langsung saja menindih tubuh pak dodi dengan posisi kedua paha sedikit dilebarkan mencoba memasukan memiawnya ke tongkol pa dodi. Setelah masuk, bu novi mulai menggoyang-goyangkan tubuhnya sesekali menghentikan goyangannya itu dan bibirnya mendekat ke bibirnya pa dodi dan saling berciuman sambil tongkol pak dodi masih terus menggenjotnya.
Sementara itu di rumah pak Parno tampak setia menunggu istrinya pulang. Pikirannya merasa cemas karena sampai waktu telah menunjukan jam 5 sore, istrinya belum juga pulang. Kemudian ia mencoba mengubunginya ke ponsel istrinya itu, namun itu tidak berhasil karena rupanya hp nya sedang tidak diaktifkan. Karena khawatir terjadi sesuatu menimpa istrinya ia lantas pergi menyusul hendak meyakinkan keadaan istrinya itu. Sesampainya di sana tak tampak satu batang hidungpun, suasananya sangat sunyi sekali. “apa mereka sudah pada bubar” gumamnya dalam hati. Namun demikian ia masih penasaran dan segera menuju ruangan demi ruangan. Usahanya hampir saja sia-sia karena sudah semua ruangan diperiksanya dan masih tidak mendapatkan seseorangpun yang berada di sana. Kemudian ia hendak pergi ke ruangan yang berada di pojok dan berniat menemui pak Dirman untuk menanyakan perihal acara yang baru saja diadakan oleh istri dan ibu-ibu PKK. Setelah dekat sekali dengan ruangan tersebut dan tepat berada di depan pintu ia mendengar samara suara yang aneh di dalam ruangan tersebut. Kemudian ia berhati-hati memasang telinganya dan menempelkannya ke pintu itu, kini suaranya terdengar sangat jelas, itu adalah suara ritihan seorang perempuan namun ia tidak bisa mengenali suara siapa itu. “siapa perempuan itu, dan sedang bersama siapa di dalam sana” bathinnya. “apa itu perempuan bawaan pak Dirman, kalo iya kenapa pak Dirman berbuat seperti itu” hatinya berkecamuk menimbulkan banyak sekali pertanyaan. “apa itu istrinya pak Dirman.. bukan kan ia sudah bercerai dengan istrinya” bathinnya lagi. setelah agak lama telinganya ditempelkan ke pintu, ia tidak lagi mendengar suara-suara seperti tadi di dalam sana. Mungkin mereka menyudahinya, pikirnya. Kemudian dengan langkah hati-hati ia pergi dari tempat itu dan menyembunyikan diri untuk mengintip siapa yang akan keluar dari ruangan tersebut.
Rupanya dugaan pak Parno benar, karena di dalam sana bu Novi dan pak Dodi sudah tidak melakukannya lagi dan terlihat tengah memasangkan pakaiannya masing-masing dan merapikannya. Ketika pintu dibukakan, bukan main kagetnya pak Parno, ternyata yang keluar itu adalah istrinya sendiri bersama anak buahnya sendiri pak Dodi. Dikecupnya pipi bu noci oleh pak dodi dengan mesranya “say, kamu masih hebat tadi, kapan-kapan kita main lagi ya” pujinya. “pasti dong say, kamu juga masih hebat, masih seperti dulu” membalas pujian. Namun mereka berdua terhentak kaget mendengar teriakan yang suaranya tak jauh dari tempat mereka. “hey... biadab kalian!!” teriak pak parno. Kemudian mereka berdua menoleh kea rah suara itu dan mereka lebih dikagetkan lagi karena ternyata itu adalah pak Parno suami bu novi sendiri. Bu novi yang melihat itu adalah suaminya langsung merangkul kakinya seraya meminta maaf “pak, maafin saya, saya menyesal” pintanya. “hah minggir kamu” sambil tangannya mendorong tubuh bu novi sehingga terjatuh dan terus berjalan agak cepat menuju pak Dodi. Sementara itu pak dodi yang curiga pak parno akan melakukan sesuatu terhadapnya lengsung berlari pergi meninggalkan mereka berdua. “eh bangsat, kembali kamu!!” teriaknya sambil mencoba mengejarnya. Namun usahanya tidak berhasil karena kakinya ditahan olah kedua tangan bu novi.
Kembali tubuh bu novi didorong sehingga terjatuh lagi, kali ini pak parno meninggalkannya sendirian tanpa bicara sedikit pun. Sesampainya di rumah bu novi tampak sedang di interogasi oleh suaminya itu dengan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan. Namun dari sekian jawaban, yang membuat pak parno lebih kaget sekaligus marah dan kecewa sekali dengan istrinya itu adalah ternyata bahwa mereka melakukan perselingkuhan isn sudah dilakukannya setelah satu tahun anak pertama mereka lahir. Kini anak pertamanya sudah berumur 16 tahun. Jadi sudah kurang lebih 15 tahun istrinya diam-diam berselingkuh dengan pak Dodi.
Meskipun demikian pak Parno yang sangat mencintai istrinya itu tidak melakukan penganiayaan malah ia banyak memberikan banyak nasihat kepada istrinya itu agar nanti ketika ia hidup bersama dengan orang lain agar tidak mengulangi perbuatannya itu, ia juga tidak melarangnya untuk suatu waktu ingin menemui ke-empat anaknya. Akhirnya pak parno menceraikan istrinya dan mengembalikan kepada kedua orang tuanya. Setelah kejadian itu pak Dodi tidak pernah terlihat lagi di Kantor. Setelah enam bulan sejak ia resmi bercerai dengan istrinya, diketehui bahwa istrinya itu tidak dinikahi pak dodi yang sudah pindah ke luar kota bersama keluarganya.
Posted on 07.52 / 1 komentar / Read More
        BONUS NEW MEMBER..
100% HANYA DI METALBET.NET
 
Copyright © 2011. Agen Judi Bola Online Terpercaya . All Rights Reserved
Home | Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Site map
Design by Herdiansyah . Published by Borneo Templates